Bertamu ke hunian hampaku?
Silakan...
Tapi aku tak suguhkan harapan, karena sarinya
habis dihisap kupu
Remahan puing masa lalu tersedia tersisakan
Kau mau secuil?
Aku tak pernah minum soda,
atau sejenis manis air
Maukah kau teguk tawar air basa?
Yang berbulir bagai kerikil
meronta ditendang sang penguasa dari
lapang kehijauan
Tenang namun meragukan
Aku sudah kemasi hidupku selanjutnya
Aku hampir selesaikan sketsa
masa depanku. Hanya perlu
goresan terang, sedikit. Entahlah
Dan aku tak inginkan terasa seperti
teh tanpa gula dan daun teh.
Hambar
Dan tak lagi bagai tumbuhan tanpa akar
Esok, aku pastikan
Aku akan berpindah tinggalkan beribu lampu
kota yang bermakna hangus arang
Aku akan tuangkan sedikit makna
dalam cangkir kopi senja pengharapan
Aku harapkan pengubahan dalam masa
Januari ini. Tak lagi mendung dan kelam
Walau sudah di ujung akhir harinya
dalam kubang pada cawan tak berbatas
dalam kubang pada cawan
yang torehkan duka
Aku ingin, mengubah
"It's better to live like a flame, to know a man and love him, even if he can't be yours, then never to love at all....." -Eloisa James-
Holla!
Showing posts with label Consciousness. Show all posts
Showing posts with label Consciousness. Show all posts
Monday, January 30, 2012
Aku Berkemas
Friday, January 20, 2012
Kapan aku "Mengubahku" ?
Dan akhirnya,
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
Friday, December 16, 2011
(My, You, Our) Study Progress Report
Bisa dibilang, ini kayak NIGHTMARE. Menunggu hasil rapor itu kayak menunggu sebuah kepastian, kepastian sebenarnya, yg bikin ketakutan.
Tapi ketakutan ini berbeda. Kali ini bukan ketakutan yg biasanya. Takut mengecewakan, takut bikin mereka terpuruk, menambah beban mereka, ketakutan yg nggak bisa diungkapin. Ketakutan sebenarnya.
Ini menunjukkan langkah kita ke depan. Kita harus gimana, bertindak seperti apa. Akan merubahnya, atau hanya mendiamkannya tetap seperti itu dan isinya memburuk perlahan.
Hanya bisa menunggu, berharap sampai buku yg cukup menyimpan sejarah itu sampai di tangan orang tua, dan akhirnya dideklarasikan.
Yang tadinya bernafas dalam-dalam, menjadi perlahan dan mungkin berhenti tersentak (hanya kiasan).
Sekian. Karena jujur, aku nggak kuat ngelanjutin ini lagi. Terlalu mendebarkan, terlalu menakutkan.
Tapi ketakutan ini berbeda. Kali ini bukan ketakutan yg biasanya. Takut mengecewakan, takut bikin mereka terpuruk, menambah beban mereka, ketakutan yg nggak bisa diungkapin. Ketakutan sebenarnya.
Ini menunjukkan langkah kita ke depan. Kita harus gimana, bertindak seperti apa. Akan merubahnya, atau hanya mendiamkannya tetap seperti itu dan isinya memburuk perlahan.
Hanya bisa menunggu, berharap sampai buku yg cukup menyimpan sejarah itu sampai di tangan orang tua, dan akhirnya dideklarasikan.
Yang tadinya bernafas dalam-dalam, menjadi perlahan dan mungkin berhenti tersentak (hanya kiasan).
Sekian. Karena jujur, aku nggak kuat ngelanjutin ini lagi. Terlalu mendebarkan, terlalu menakutkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)