Holla!

Loving peace, keeping peace, spreading peace ☮
Showing posts with label Thought. Show all posts
Showing posts with label Thought. Show all posts

Wednesday, December 26, 2012

Distance



"We are kind these clouds that separated by the light, look same and close but actually far away.
We are lovers, that separated by... Distance."

Monday, January 30, 2012

Aku Berkemas

Bertamu ke hunian hampaku?
Silakan...
Tapi aku tak suguhkan harapan, karena sarinya
habis dihisap kupu
Remahan puing masa lalu tersedia tersisakan
Kau mau secuil?

Aku tak pernah minum soda,
atau sejenis manis air
Maukah kau teguk tawar air basa?
Yang berbulir bagai kerikil
meronta ditendang sang penguasa dari
lapang kehijauan

Tenang namun meragukan
Aku sudah kemasi hidupku selanjutnya
Aku hampir selesaikan sketsa
masa depanku. Hanya perlu
goresan terang, sedikit. Entahlah
Dan aku tak inginkan terasa seperti
teh tanpa gula dan daun teh.
Hambar
Dan tak lagi bagai tumbuhan tanpa akar

Esok, aku pastikan
Aku akan berpindah tinggalkan beribu lampu
kota yang bermakna hangus arang
Aku akan tuangkan sedikit makna
dalam cangkir kopi senja pengharapan

Aku harapkan pengubahan dalam masa
Januari ini. Tak lagi mendung dan kelam
Walau sudah di ujung akhir harinya
dalam kubang pada cawan tak berbatas
dalam kubang pada cawan
yang torehkan duka

Aku ingin, mengubah

Friday, January 20, 2012

Live. I'm perfect as me!

Aku hidup
dan berguna-mungkin-
Tersiakan, bukan tujuanku menjadinya
Tapi tidak dikata persediaan
yang gantikan mereka
Bukan alu,
yang ditumbuk perasaannya
bagai hina

Begini, bagaimana harga diriku berkabar?
Rendahan. Bukan tingkatanku
Aku tak sempurna, talenta sepertinya aku tidak
Tapi aku sesempurnaku diciptakan
Aku punya pemikiran. Logis !
Berperasaan. Tak sadis bengis !
Berharga diri tak rendah. Bukan berharga sama mengemis !
Karena aku bukan,
makhluk eceran dalam riuhnya bimasakti

Jelaskan. Ini sebuah tanya penasaran

Dia-
berdiam begitu tetap, dengan
tepian hitam tambahan bantu mata
Bersetelan yang dengan betah dan tak terganggu
disandang dan dinilai "maskulin"
Sungguhnya biasa, jauhnya sederhana

Tapi lewat caranya,
dia hadirkan tatapan di hadapan,
dia menatap keyakinan penuh,
dia enggan mengucap lebih kata, karena dia
sebenarnya bukan pendiam, pemalu
tapi bukan pengecut

Dia katakan perasaannya di balik,
dia penuh tekad sampaikan, tapi
urung keberanian utarakan
Laku sebenarnya bersembunyi mudahnya,
tapi tidak dengannya
Sangat terbaca dan...
ini kedua kalinya aku ketahui

Dia lihat,
persis di aku. Tepat!
Bodoh, aku biarkan diri ini berpaling, dari
sudut jarum angka satu hingga duabelas
Jelas tersirat, dia memucat. Aku rasakan,
dia sesali, bukan bukan. Dia
sangat kecewa. Mungkinnya harapkan,
tatapan kepastian akan berbalas kepercayaan
Tidak, senyatanya. Jauh membalik dan berbalik

Dia takutkanku, akan
menyanding bersebelahan dengan
manusia sejurusannya, dia tau mereka kawan
Fakta, nyata, aku bukan lebih dari siapanya
Lakunya tampak
begitu. Kenapa?

Hentikan.
Jangan buat otakku berpacu dalam peloncoan
Singkatnya waktu itu, jangan.
Sekalipun berusaha buatku tak penasaran

Henti buatku melebihi batas ambang penasaran

Kapan aku "Mengubahku" ?

Dan akhirnya,
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya

Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam

Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah

Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"

Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya

Tuesday, January 10, 2012

Manusia di Penghujung Sajak

Aku tetap lanjutkan,
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku

Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
                                                            -entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces

Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
                                              -enggan

Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
                                                       -selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara

Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik

Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...

Aku tetap teruskannya,
                       sajakku,
                    yang tiada,
                                    -berakhir

Friday, December 30, 2011

The Ends of December. The Ends of 2011. The 2012 Begin

2011...
The most awesome year I ever had. In this year, I found the truth, I found so many things.
About myself, my life. I could wake up from my unconsciousness
I knew, I'm a thirteen years old girl. I thought, it wasn't too adult
But it was a blessing. I really thanks to God. He gave the adulthood soul on me
He made me knew the bad and the good things. However, yeah you knew
As a teenager, I still disobedient. Disobedient to my parents, specifically. You also, right? Haha, just tell the truth. Yes or no
Sometimes I still thought about my past, hoped it that it could happen in the next
Forget, I'm just dreaming

In this year, I had so many tears ran out my eyes. I felt so many pains
But, there were friends who always held me tight. Wiped out my tears
There was a love between our pain
I wanna went back to that times
I wanna felt the joy that (me and my friends) made of

I won't just depend my hopes with my past
I wanna made something new
Exchanged my old rusted spirits with the shiny one
Exchanged my dusty minds with the brilliant one
Exchanged my worst soul with the holy one
Exchanged my predictable deeds with the unpredictable one
(Because I wanna made a surprise to everyone)
But I won't changed my personality, it was me. And I won't changed me
I was born to be me, myself
And not born to be another

Had so many friends who loved me, but also had many friends that you could call it "unkind" (I thought that word is more polite)
It was a pleasant
I ever hurting my friends, but was also hurt by another
I considered, it was a part of my journey. My 2011's journey
Had a lot of things that already happened, the joyful one nor the painful one
It was its own happiness

Had so many problems, that were uneasy to be solved
Had so many burdened minds, that really bother me
I thought, I'm gonna be crazy that time
But, again and again, God still gave me a patience
He showed me a things that made me stronger
He led me to the right way, so that I'm not got lost

One moment that I couldn't forget.
And that was...
When I was slipped and my best friends saw it!
Yeah, none knew
But what are you felt when you are slipped with your idiots face looks?
A foolish thing
Oh you knew, it was an embarassing moment I should have
Aa, I wanna yelled. I wanna yelled at everybody around me
But I thought, it just made me looked more crazy, right?
Eh, am I really got crazy? Yeah, I thought I was so

And I hope, in the 2012
I can make myself better, better in everything
I hope I can also have the good things that happen in 2011,
then make it happen again in 2012
But I also wanna have the new things, I mean the good things
I wanna have all the good things, without the bad one
Eh? Am I kidding myself? It's impossible, right?
Be serious, Vonne
No, I'm just hoping. It is a serious conversation
It is allow, isn't it?


2011 : filled with unexpected, unbelievable things
2011 : made of our dream in the previous year,
       and we hope  we can make it happen in the next year
2011 : the craziest year I ever had
2011 : a year, that I can't describe more in here

Goodbye the unexpected year
Because without ends of 2011, we won't have the beginning of 2012
Because without the beginning of 2012, we won't have the ends of 2011

Si Tua yang Mengeriput Seutuhnya

Aku ini kecil
Sudah diajari pigmentasi
Rasakan kedamaian yang hanya sampai,
epidermis kulit
Ditumbuhkan dahan pendustaan, tiap
orang tak menau
Lalu ditancapkan sampai, bagian
terkecil urat nadi
Sudah cicipi karat mendarah dari satin
Kemarau tak bermusim,
sangkutkanku pada legam petang
Yang tadi jernih menjadi keruh terbakar

Merengkuh angkuh
Mengenang usang
Bengis mengantusias
Ambisi kefanaan, telah
butakannya

Dia tua tak berpikir
tak ajarkan kebenaran, pada
setelahnya
Aku yakin dia gagal menelaah lebih,
moral terkandung dalam hukum
Hanya berpedoman kelam mendendam
Hatinya tak bermata, apalagi
perasaan
Dia tak terketuk, melainkan
terkutuk. Ini bukan do'a, tapi mungkin
Maka dia tak punya mata hati, pintu hati, lebih
perasaan

Dia ada dalam naung hukum,
tapi tak dapat terapkan
Jabatan hanya pelengkap
Berpangkat hanya palekat

Heh, keriput!
Kau ajarkan apa?
Pertentangan. Aku pastikan,
aku tolak dengan sangat, dan
tanpa lagi mengiyakan
Tentukan salah atau benar,
aku dapat. Jangan remehkan
kecil aku seperti ini

Memang kau? Kau utuh keriput
Perasaanmu, jalan pikirmu,
kulitmu pun mengeriput
Lengkap! Kau menyedihkan

Wednesday, December 28, 2011

Temarammu, tujuku ke dimensi lampau

Terlihat utuh refleksimu
Terpapar jelas dalam temaram berkabut
Tembolong batas yang tak beralasan
Tuntun langkahku pada kesunyian malam

Siulan parau mengisak nadi
Bawaku bertaut menuju lebih
Berbayang diri bawah tapakmu
Bingarnya cahya yang soroti tiap derap

Berkawan dingin, bermantel kabut beludru
Kepak gagak pada dahan keji telah berisyarat
"Ini tak lagi dunianya. Ini telah berganti dan terganti."

Dalam kubangan lembah mengarai pahit
Sandarkan sejenak pada batangan pohon yang terdiam
"Aneh. Hanya hidup pada senja hari
Bukan siang, malam pun tidak
Ini diantara -waktu-"

Terangi!
Lenteramu memang mayang terkabut
Setidaknya masih tersirat menyemat
Soroti dentum langkah kecil
Dalam langkah tuju dimensi silam
Masa yang terlewati tapi terjadi
Dalam sela kehidupan insan yang tertinggal

Monday, December 26, 2011

Yang kunanti adalah...

Dia yang tak lupa singgahi hariku
Kini menghilang,
ditelan, dilumat oleh perasaanku sendiri
Saat dia ada, kemauanku tak pernah sertainya
Saat dia tak ada, aku mencari sampai terpuruk menggebu

Mereka jarang berpadu,
walau sering bertemu
Mereka hanya bersemu,
dalam bimbang tak menentu

Apa maumu? Mau kalian?
Tolonglah hadir bersamaan
Tuk buatku lagi dulu
Yang selalu berkutik diam merangkai
Kata perkata,
yang bertabu maupun yang menggertak menyeru

Perlukah aku lakukan ritual ambigu untuk memanggilmu?
Jangan iyakan
Bisakah kau hadir dengan sendirinya?
Harap iyakan

Kau tercecer atau terbuang atau tersiakan?
Aku tak pernah anggapmu bak air mata yang tercecer sedih
Aku tak pernah buangmu bak kelamnya masa laluku
Aku tak pernah siakanmu bak prosenium teronggok di seberang jalan
Kau ada, kau menyertai, kau hadir!

Kau, yang kunanti, kuharap dapat kembali
Kau...
Kalian... adalah
Inspirasi dan niatanku
Harap baurkan rasamu, dalam rasaku
Dalam ragaku

Saturday, December 24, 2011

Aku hanya...

Aku hanya berimu semangat, bukan jiwa
Aku hanya berimu perasaanku, bukan hatiku
Kita hidup dalam masing-masing hati
"Hidup dalam satu hati? Bukankah itu mustahil?"

Kita hanya dapat hidup dalam leburan hati, perasaan
Bukan dalam hati
Bagi yang peka, tentu dapat rasakan lainnya
Bagi yang tidak, itu hanya tersiakan

Disitu, kepedulian muncul
Bukan dari paksaan, tapi nalurinya
Bukan dari pemikiran otak, tapi refleks

~Sekian


Hidup-selamanya. Mustahil

"Bagaimana jika aku hidup selamanya?"
Itu tak beralasan. Bisa menyenangkan mungkin menyengsarakan
Menurutku, lebih pada "melelahkan"
Karena tak punya kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya "Di atas sana"
Hanya berlaku sama tiap harinya
Tidakkah melelahkan? -Mungkin hanya "cukup", tidak "terlalu" melelahkan

Hidup itu penuh keculasan, makhluknya maupun alur itu sendiri
Aku tak ingin hidup selamanya
Karena aku akan sendiri
Disaat yang lain, mulai berpejam
Aku ingin rasakannya, tapi tak sekarang
Hidup normal seperti lainnya
Kembalikanlah aku semula dulu,
jika aku benar hidup selamanya
Aku tetap ingin hidup sama, walaupun dalam perbedaan


Dia, yang buatku bertanya

Yang kukenal. tapi tak pernah kusapa
Dia yang selalu berdiam penuh keanehan
Dengan senyum misterius
Terkadang bersikap bodoh, tapi bijak

Jalan pikirannya sulit dipahami
Terlebih orang yang asing, jauh darinya, termasuk aku

Karena itu, dia berbeda
Dia tak sama
Dia, tak dapat diprediksi

Taukah?
Dia sedikit menyebalkan
Tapi tidak mengganggu
Tak pernah tampakkan amarahnya

Dia apa adanya, tak melebih-lebihkan
Itu jadi panutanku

Bagaimana agar aku jadi dia?
Menurutku, tak perlu
Biarlah aku dengan diriku sendiri
Dia dengan tampang polosnya itu

Karena dia, misterius, yang buatku bertanya

Inilah Aku

"Kamu menyakitkan!"
Ya, aku memang begini
Aku tak berperasaan
Lalu kenapa?

Aku hanya mencoba untuk menyadarkan
Caraku mungkin salah,
tapi niatannya tidak

Aku yang mencoba buatmu sadar,
tapi aku yang terabaikan
Aku yang coba buatmu tak rebah,
tapi aku yang terdampak amarah

Perdamaian? Dapatkah terjadi?
Tidak, itu sudah pasti
Kau yang putuskan tidak
Aku terimanya

Awal yang kau paksakan berteman
Akhir kau yang pisahkan
Setauku, teman tak terputus
Tapi itu mungkin saja

Dan inilah pertemanan yang tak wajar
Jatuh satu korban yang tak bersalah
Pertemanan bagai kesengsaraan
Bagiku, bukan baginya-tak bernama-

Tuesday, December 20, 2011

Harga Diri atau Harganya Diri?

Ini tak pernah habis terpikir olehku, mungkin oleh kalian
"Harga diri, kenapa diobral? Ditawarkan sana-sini"
"Apa yang -mereka-mereka- pikirkan sebelumnya?"
"Ada rasa malukah?" Terkadang, mungkin
"Diri mereka itu berharga atau ada harganya? Bisa keduanya"

Kita Berbeda!

Aku ingin menjadi diriku sendiri
Tak hanya sesekali, tapi terus begitu selamanya
Aku tak mau dibilang sama, karena aku berbeda, aku membuat perbedaan.
Suatu saat, aku akan melakukkan sesuatu
Yang pastinya milikku seutuhnya
Lalu aku bagi dengan lainnya
"Hidup ini tak sendiri bukan?"

Tak ada paksaan untuk menentukan pilihanku, jalanku
Kau hanya perlu mengiyakannya, bukan mencampurinya
Kau hanya perlu membantunya, bukan menentukannya

Karena pilihanmu bukan pilihanku
Kita hanya saling mengusulkan, menasihati agar tak salah memilih

Tapi pasti tak mau juga berkutik dalam lingkup keegoisan
Karena kita berbeda, kita tak sama.
Dengan pilihan masing-masing

Dan perbedaan bukan masalah unutk menjadi satu
Jangan jadikan ini motivasi untuk memandang lainnya sebelah mata

"Diantara perbedaan, disanalah persatuan itu bermula."

Thursday, October 13, 2011

Kehidupan Sebenarnya

Balutan kemeja yang setengah menyerpih
Dengan lipatan pelik setiap lengannya
Ngarai menoda yang selalu sertai
Dengan tetesan peluh yang lama menjadi danau

Tak luput juga kantong dosa pendustaan,
kebohongan
Yang tiap hari tak pernah lupa kau isi,
walau hanya satu mungkin beberapa
kepingan kecil logam dosa.

Tangan yang selalu menengadah mohon ampunan
Tapi diri tak kunjung sadar
Kau sucikan jiwamu dan nodai lagi

Karena inilah sesungguhnya
Kehidupan insan yang sedang berjalan