Aku hidup
dan berguna-mungkin-
Tersiakan, bukan tujuanku menjadinya
Tapi tidak dikata persediaan
yang gantikan mereka
Bukan alu,
yang ditumbuk perasaannya
bagai hina
Begini, bagaimana harga diriku berkabar?
Rendahan. Bukan tingkatanku
Aku tak sempurna, talenta sepertinya aku tidak
Tapi aku sesempurnaku diciptakan
Aku punya pemikiran. Logis !
Berperasaan. Tak sadis bengis !
Berharga diri tak rendah. Bukan berharga sama mengemis !
Karena aku bukan,
makhluk eceran dalam riuhnya bimasakti
"It's better to live like a flame, to know a man and love him, even if he can't be yours, then never to love at all....." -Eloisa James-
Holla!
Showing posts with label Me. Show all posts
Showing posts with label Me. Show all posts
Friday, January 20, 2012
Kapan aku "Mengubahku" ?
Dan akhirnya,
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
Tuesday, January 10, 2012
Manusia di Penghujung Sajak
Aku tetap lanjutkan,
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku
Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
-entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces
Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
-enggan
Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
-selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara
Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik
Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...
Aku tetap teruskannya,
sajakku,
yang tiada,
-berakhir
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku
Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
-entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces
Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
-enggan
Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
-selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara
Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik
Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...
Aku tetap teruskannya,
sajakku,
yang tiada,
-berakhir
Sunday, December 25, 2011
Aku dan tumpuanku
Batangan pohon yang tiada utuh,
terbesit sembilu parasit menggerogot
Mega yang membisu,
dia tak lagi berucap, bahkan benderang
Dengan makhluknya yang tak seirama,
penuh pengkhianatan, kebohongan, cacian
Usangnya deretan buku yang kalimatnya rapuh mengeruh,
aku tau dia telah tiada-dimakan usia-
dia tak lagi menjamuri tiap lembarannya
dia tak lagi hiasi sudut rongganya
Kapas busa yang berterbangan dari naungannya
Cahaya sunyi yang bersemedi
Dan dalam petak kotak kerut itu,
disanalah raga dan jiwaku berdiam
Masih dapat bernafas dan berpikir
dan organ yang setia bekerja dalam pembusukkan
Aku sadar, diri ini hidup dalam kelemahan
Aku sadar, tak lagi ada inspirasi sehat
Aku sadar, tak ada sandaran hidup untuk meneduh
Aku tetap berkarya dalam aviasi
Tak ingin berhenti
Aku berbuat, tidak mati!
Aku punya kehidupan, bukan semata impian!
Aku lumpuh terkulai, silakan saja samakan dengan idiot di seberang jalan
Apa masalahnya? Apa halangannya?
Toh ini aku, bukan kau
Aku yang menanggung malu dan hujatan
Aku masih dapat hidup, dan berkehidupan
Dengan moral dan dalam hukum sekalipun
Biarkan aku begini dengan tumpuanku, pijakan
Sekalipun aku berpergi, beginilah aku, berkarya
Aku masih membayangi
Aku, yang bersemayam, dalam naung elegi abadimu
terbesit sembilu parasit menggerogot
Mega yang membisu,
dia tak lagi berucap, bahkan benderang
Dengan makhluknya yang tak seirama,
penuh pengkhianatan, kebohongan, cacian
Usangnya deretan buku yang kalimatnya rapuh mengeruh,
aku tau dia telah tiada-dimakan usia-
dia tak lagi menjamuri tiap lembarannya
dia tak lagi hiasi sudut rongganya
Kapas busa yang berterbangan dari naungannya
Cahaya sunyi yang bersemedi
Dan dalam petak kotak kerut itu,
disanalah raga dan jiwaku berdiam
Masih dapat bernafas dan berpikir
dan organ yang setia bekerja dalam pembusukkan
Aku sadar, diri ini hidup dalam kelemahan
Aku sadar, tak lagi ada inspirasi sehat
Aku sadar, tak ada sandaran hidup untuk meneduh
Aku tetap berkarya dalam aviasi
Tak ingin berhenti
Aku berbuat, tidak mati!
Aku punya kehidupan, bukan semata impian!
Aku lumpuh terkulai, silakan saja samakan dengan idiot di seberang jalan
Apa masalahnya? Apa halangannya?
Toh ini aku, bukan kau
Aku yang menanggung malu dan hujatan
Aku masih dapat hidup, dan berkehidupan
Dengan moral dan dalam hukum sekalipun
Biarkan aku begini dengan tumpuanku, pijakan
Sekalipun aku berpergi, beginilah aku, berkarya
Aku masih membayangi
Aku, yang bersemayam, dalam naung elegi abadimu
Saturday, December 24, 2011
Inilah Aku
"Kamu menyakitkan!"
Ya, aku memang begini
Aku tak berperasaan
Lalu kenapa?
Aku hanya mencoba untuk menyadarkan
Caraku mungkin salah,
tapi niatannya tidak
Aku yang mencoba buatmu sadar,
tapi aku yang terabaikan
Aku yang coba buatmu tak rebah,
tapi aku yang terdampak amarah
Perdamaian? Dapatkah terjadi?
Tidak, itu sudah pasti
Kau yang putuskan tidak
Aku terimanya
Awal yang kau paksakan berteman
Akhir kau yang pisahkan
Setauku, teman tak terputus
Tapi itu mungkin saja
Dan inilah pertemanan yang tak wajar
Jatuh satu korban yang tak bersalah
Pertemanan bagai kesengsaraan
Bagiku, bukan baginya-tak bernama-
Ya, aku memang begini
Aku tak berperasaan
Lalu kenapa?
Aku hanya mencoba untuk menyadarkan
Caraku mungkin salah,
tapi niatannya tidak
Aku yang mencoba buatmu sadar,
tapi aku yang terabaikan
Aku yang coba buatmu tak rebah,
tapi aku yang terdampak amarah
Perdamaian? Dapatkah terjadi?
Tidak, itu sudah pasti
Kau yang putuskan tidak
Aku terimanya
Awal yang kau paksakan berteman
Akhir kau yang pisahkan
Setauku, teman tak terputus
Tapi itu mungkin saja
Dan inilah pertemanan yang tak wajar
Jatuh satu korban yang tak bersalah
Pertemanan bagai kesengsaraan
Bagiku, bukan baginya-tak bernama-
Subscribe to:
Posts (Atom)