Bertamu ke hunian hampaku?
Silakan...
Tapi aku tak suguhkan harapan, karena sarinya
habis dihisap kupu
Remahan puing masa lalu tersedia tersisakan
Kau mau secuil?
Aku tak pernah minum soda,
atau sejenis manis air
Maukah kau teguk tawar air basa?
Yang berbulir bagai kerikil
meronta ditendang sang penguasa dari
lapang kehijauan
Tenang namun meragukan
Aku sudah kemasi hidupku selanjutnya
Aku hampir selesaikan sketsa
masa depanku. Hanya perlu
goresan terang, sedikit. Entahlah
Dan aku tak inginkan terasa seperti
teh tanpa gula dan daun teh.
Hambar
Dan tak lagi bagai tumbuhan tanpa akar
Esok, aku pastikan
Aku akan berpindah tinggalkan beribu lampu
kota yang bermakna hangus arang
Aku akan tuangkan sedikit makna
dalam cangkir kopi senja pengharapan
Aku harapkan pengubahan dalam masa
Januari ini. Tak lagi mendung dan kelam
Walau sudah di ujung akhir harinya
dalam kubang pada cawan tak berbatas
dalam kubang pada cawan
yang torehkan duka
Aku ingin, mengubah
"It's better to live like a flame, to know a man and love him, even if he can't be yours, then never to love at all....." -Eloisa James-
Holla!
Showing posts with label Life. Show all posts
Showing posts with label Life. Show all posts
Monday, January 30, 2012
Aku Berkemas
Friday, January 20, 2012
Live. I'm perfect as me!
Aku hidup
dan berguna-mungkin-
Tersiakan, bukan tujuanku menjadinya
Tapi tidak dikata persediaan
yang gantikan mereka
Bukan alu,
yang ditumbuk perasaannya
bagai hina
Begini, bagaimana harga diriku berkabar?
Rendahan. Bukan tingkatanku
Aku tak sempurna, talenta sepertinya aku tidak
Tapi aku sesempurnaku diciptakan
Aku punya pemikiran. Logis !
Berperasaan. Tak sadis bengis !
Berharga diri tak rendah. Bukan berharga sama mengemis !
Karena aku bukan,
makhluk eceran dalam riuhnya bimasakti
dan berguna-mungkin-
Tersiakan, bukan tujuanku menjadinya
Tapi tidak dikata persediaan
yang gantikan mereka
Bukan alu,
yang ditumbuk perasaannya
bagai hina
Begini, bagaimana harga diriku berkabar?
Rendahan. Bukan tingkatanku
Aku tak sempurna, talenta sepertinya aku tidak
Tapi aku sesempurnaku diciptakan
Aku punya pemikiran. Logis !
Berperasaan. Tak sadis bengis !
Berharga diri tak rendah. Bukan berharga sama mengemis !
Karena aku bukan,
makhluk eceran dalam riuhnya bimasakti
Jelaskan. Ini sebuah tanya penasaran
Dia-
berdiam begitu tetap, dengan
tepian hitam tambahan bantu mata
Bersetelan yang dengan betah dan tak terganggu
disandang dan dinilai "maskulin"
Sungguhnya biasa, jauhnya sederhana
Tapi lewat caranya,
dia hadirkan tatapan di hadapan,
dia menatap keyakinan penuh,
dia enggan mengucap lebih kata, karena dia
sebenarnya bukan pendiam, pemalu
tapi bukan pengecut
Dia katakan perasaannya di balik,
dia penuh tekad sampaikan, tapi
urung keberanian utarakan
Laku sebenarnya bersembunyi mudahnya,
tapi tidak dengannya
Sangat terbaca dan...
ini kedua kalinya aku ketahui
Dia lihat,
persis di aku. Tepat!
Bodoh, aku biarkan diri ini berpaling, dari
sudut jarum angka satu hingga duabelas
Jelas tersirat, dia memucat. Aku rasakan,
dia sesali, bukan bukan. Dia
sangat kecewa. Mungkinnya harapkan,
tatapan kepastian akan berbalas kepercayaan
Tidak, senyatanya. Jauh membalik dan berbalik
Dia takutkanku, akan
menyanding bersebelahan dengan
manusia sejurusannya, dia tau mereka kawan
Fakta, nyata, aku bukan lebih dari siapanya
Lakunya tampak
begitu. Kenapa?
Hentikan.
Jangan buat otakku berpacu dalam peloncoan
Singkatnya waktu itu, jangan.
Sekalipun berusaha buatku tak penasaran
Henti buatku melebihi batas ambang penasaran
berdiam begitu tetap, dengan
tepian hitam tambahan bantu mata
Bersetelan yang dengan betah dan tak terganggu
disandang dan dinilai "maskulin"
Sungguhnya biasa, jauhnya sederhana
Tapi lewat caranya,
dia hadirkan tatapan di hadapan,
dia menatap keyakinan penuh,
dia enggan mengucap lebih kata, karena dia
sebenarnya bukan pendiam, pemalu
tapi bukan pengecut
Dia katakan perasaannya di balik,
dia penuh tekad sampaikan, tapi
urung keberanian utarakan
Laku sebenarnya bersembunyi mudahnya,
tapi tidak dengannya
Sangat terbaca dan...
ini kedua kalinya aku ketahui
Dia lihat,
persis di aku. Tepat!
Bodoh, aku biarkan diri ini berpaling, dari
sudut jarum angka satu hingga duabelas
Jelas tersirat, dia memucat. Aku rasakan,
dia sesali, bukan bukan. Dia
sangat kecewa. Mungkinnya harapkan,
tatapan kepastian akan berbalas kepercayaan
Tidak, senyatanya. Jauh membalik dan berbalik
Dia takutkanku, akan
menyanding bersebelahan dengan
manusia sejurusannya, dia tau mereka kawan
Fakta, nyata, aku bukan lebih dari siapanya
Lakunya tampak
begitu. Kenapa?
Hentikan.
Jangan buat otakku berpacu dalam peloncoan
Singkatnya waktu itu, jangan.
Sekalipun berusaha buatku tak penasaran
Henti buatku melebihi batas ambang penasaran
Kapan aku "Mengubahku" ?
Dan akhirnya,
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
Tuesday, January 10, 2012
Manusia di Penghujung Sajak
Aku tetap lanjutkan,
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku
Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
-entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces
Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
-enggan
Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
-selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara
Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik
Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...
Aku tetap teruskannya,
sajakku,
yang tiada,
-berakhir
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku
Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
-entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces
Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
-enggan
Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
-selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara
Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik
Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...
Aku tetap teruskannya,
sajakku,
yang tiada,
-berakhir
Monday, January 9, 2012
No story of our relation. No shadows of our reflections
Ends?
It was enough. I couldn't keep it for longer more
I couldn't make it more stronger
I already did many endeavors
Don't lay blame on me, also you
We both no, we both didn't mistaken
None mistaken, none accurate
We just upheld our feelings on a brittle string,
it just alike
It was a destiny
I'm not understood
I fear
I feel mistaken
I indeed, I couldn't...
count on everyone, even me, myself
We never inscribe our sweet nor bitter moments, even on a broken mirror
We never. It was its own manner, its own way
We never knew, we never understood
Just hoped in some horde of cumulonimbus
it just alike, it wipe away by its rain
or even its storm
Is expectation still one direction with us?
I guessed no, not over again
Made up your mind. It was destined to be ends, our relation
Don't opposed, between the compulsion and...
pretense...
we couldn't, count on each others
If we made it still walked along,
we just made it as a debacle. Don't we?
We couldn't be prisoners of our brittle feeling
If that so, we just made our own darkness hollow
We weren't a mere, we were alive
but our story, that was correct
Our story just a mere although we spent it, and truly happen
A ditch on the relationship?
Don't you know? That was us!
Made each hearts into a smithereens
No triumph, none won the owner of the hearts
But none lose. It was a fair
Feeling was neutral,
before the living creature filled it
Just accept it, even though it ends incompetent
I knew, it was asserts, we were end
Don't try to make it all unite, again
No owner of our past
No story of our relation
No shadows of our reflections
It was enough. I couldn't keep it for longer more
I couldn't make it more stronger
I already did many endeavors
Don't lay blame on me, also you
We both no, we both didn't mistaken
None mistaken, none accurate
We just upheld our feelings on a brittle string,
it just alike
It was a destiny
I'm not understood
I fear
I feel mistaken
I indeed, I couldn't...
count on everyone, even me, myself
We never inscribe our sweet nor bitter moments, even on a broken mirror
We never. It was its own manner, its own way
We never knew, we never understood
Just hoped in some horde of cumulonimbus
it just alike, it wipe away by its rain
or even its storm
Is expectation still one direction with us?
I guessed no, not over again
Made up your mind. It was destined to be ends, our relation
Don't opposed, between the compulsion and...
pretense...
we couldn't, count on each others
If we made it still walked along,
we just made it as a debacle. Don't we?
We couldn't be prisoners of our brittle feeling
If that so, we just made our own darkness hollow
We weren't a mere, we were alive
but our story, that was correct
Our story just a mere although we spent it, and truly happen
A ditch on the relationship?
Don't you know? That was us!
Made each hearts into a smithereens
No triumph, none won the owner of the hearts
But none lose. It was a fair
Feeling was neutral,
before the living creature filled it
Just accept it, even though it ends incompetent
I knew, it was asserts, we were end
Don't try to make it all unite, again
No owner of our past
No story of our relation
No shadows of our reflections
~Inspired by:
My Friends
Friday, December 30, 2011
Si Tua yang Mengeriput Seutuhnya
Aku ini kecil
Sudah diajari pigmentasi
Rasakan kedamaian yang hanya sampai,
epidermis kulit
Ditumbuhkan dahan pendustaan, tiap
orang tak menau
Lalu ditancapkan sampai, bagian
terkecil urat nadi
Sudah cicipi karat mendarah dari satin
Kemarau tak bermusim,
sangkutkanku pada legam petang
Yang tadi jernih menjadi keruh terbakar
Merengkuh angkuh
Mengenang usang
Bengis mengantusias
Ambisi kefanaan, telah
butakannya
Dia tua tak berpikir
tak ajarkan kebenaran, pada
setelahnya
Aku yakin dia gagal menelaah lebih,
moral terkandung dalam hukum
Hanya berpedoman kelam mendendam
Hatinya tak bermata, apalagi
perasaan
Dia tak terketuk, melainkan
terkutuk. Ini bukan do'a, tapi mungkin
Maka dia tak punya mata hati, pintu hati, lebih
perasaan
Dia ada dalam naung hukum,
tapi tak dapat terapkan
Jabatan hanya pelengkap
Berpangkat hanya palekat
Heh, keriput!
Kau ajarkan apa?
Pertentangan. Aku pastikan,
aku tolak dengan sangat, dan
tanpa lagi mengiyakan
Tentukan salah atau benar,
aku dapat. Jangan remehkan
kecil aku seperti ini
Memang kau? Kau utuh keriput
Perasaanmu, jalan pikirmu,
kulitmu pun mengeriput
Lengkap! Kau menyedihkan
Sudah diajari pigmentasi
Rasakan kedamaian yang hanya sampai,
epidermis kulit
Ditumbuhkan dahan pendustaan, tiap
orang tak menau
Lalu ditancapkan sampai, bagian
terkecil urat nadi
Sudah cicipi karat mendarah dari satin
Kemarau tak bermusim,
sangkutkanku pada legam petang
Yang tadi jernih menjadi keruh terbakar
Merengkuh angkuh
Mengenang usang
Bengis mengantusias
Ambisi kefanaan, telah
butakannya
Dia tua tak berpikir
tak ajarkan kebenaran, pada
setelahnya
Aku yakin dia gagal menelaah lebih,
moral terkandung dalam hukum
Hanya berpedoman kelam mendendam
Hatinya tak bermata, apalagi
perasaan
Dia tak terketuk, melainkan
terkutuk. Ini bukan do'a, tapi mungkin
Maka dia tak punya mata hati, pintu hati, lebih
perasaan
Dia ada dalam naung hukum,
tapi tak dapat terapkan
Jabatan hanya pelengkap
Berpangkat hanya palekat
Heh, keriput!
Kau ajarkan apa?
Pertentangan. Aku pastikan,
aku tolak dengan sangat, dan
tanpa lagi mengiyakan
Tentukan salah atau benar,
aku dapat. Jangan remehkan
kecil aku seperti ini
Memang kau? Kau utuh keriput
Perasaanmu, jalan pikirmu,
kulitmu pun mengeriput
Lengkap! Kau menyedihkan
Wednesday, December 28, 2011
Temarammu, tujuku ke dimensi lampau
Terlihat utuh refleksimu
Terpapar jelas dalam temaram berkabut
Tembolong batas yang tak beralasan
Tuntun langkahku pada kesunyian malam
Siulan parau mengisak nadi
Bawaku bertaut menuju lebih
Berbayang diri bawah tapakmu
Bingarnya cahya yang soroti tiap derap
Berkawan dingin, bermantel kabut beludru
Kepak gagak pada dahan keji telah berisyarat
"Ini tak lagi dunianya. Ini telah berganti dan terganti."
Dalam kubangan lembah mengarai pahit
Sandarkan sejenak pada batangan pohon yang terdiam
"Aneh. Hanya hidup pada senja hari
Bukan siang, malam pun tidak
Ini diantara -waktu-"
Terangi!
Lenteramu memang mayang terkabut
Setidaknya masih tersirat menyemat
Soroti dentum langkah kecil
Dalam langkah tuju dimensi silam
Masa yang terlewati tapi terjadi
Dalam sela kehidupan insan yang tertinggal
Terpapar jelas dalam temaram berkabut
Tembolong batas yang tak beralasan
Tuntun langkahku pada kesunyian malam
Siulan parau mengisak nadi
Bawaku bertaut menuju lebih
Berbayang diri bawah tapakmu
Bingarnya cahya yang soroti tiap derap
Berkawan dingin, bermantel kabut beludru
Kepak gagak pada dahan keji telah berisyarat
"Ini tak lagi dunianya. Ini telah berganti dan terganti."
Dalam kubangan lembah mengarai pahit
Sandarkan sejenak pada batangan pohon yang terdiam
"Aneh. Hanya hidup pada senja hari
Bukan siang, malam pun tidak
Ini diantara -waktu-"
Terangi!
Lenteramu memang mayang terkabut
Setidaknya masih tersirat menyemat
Soroti dentum langkah kecil
Dalam langkah tuju dimensi silam
Masa yang terlewati tapi terjadi
Dalam sela kehidupan insan yang tertinggal
Jangan Paksakan Fisikmu
Balutan nafas yang tak semuda kainmu
Binar mata mengerut seiring kelopak lelahmu
Semangat asamu memang dulu,
lakukannya kini yang membeban
Bulatan oranye di penghujung barat,
tak cukup rasakan pedih usahamu
Tetes air yang bukan lagi menetes,
mega pun tak sanggup kucurkan derasnya hujan,
layaknya tangis peluhmu
Kau tau ini apa?
Ini perjuangan hidup yang jarang kau sadari,
sama sekali.
Kau tak sadar kau mulai melemah
Daging dan otot yang menempel tiap tulang,
dibalut keriputmu
Ya, kau tau kau tua lemah
Tapi kau tak sadar kau melemah
Biarkan manusia lain gantikanmu
Gantikan perjuanganmu, kumaksud
Itu tak masalah, bukan?
Yang penting dia manusia, bukan hewan
Dirimu ini bisa lagi terkapar
Hentikan
Kau terlalu lebih rasa derita
Gantikan saja
Dia dari mereka dapat
Binar mata mengerut seiring kelopak lelahmu
Semangat asamu memang dulu,
lakukannya kini yang membeban
Bulatan oranye di penghujung barat,
tak cukup rasakan pedih usahamu
Tetes air yang bukan lagi menetes,
mega pun tak sanggup kucurkan derasnya hujan,
layaknya tangis peluhmu
Kau tau ini apa?
Ini perjuangan hidup yang jarang kau sadari,
sama sekali.
Kau tak sadar kau mulai melemah
Daging dan otot yang menempel tiap tulang,
dibalut keriputmu
Ya, kau tau kau tua lemah
Tapi kau tak sadar kau melemah
Biarkan manusia lain gantikanmu
Gantikan perjuanganmu, kumaksud
Itu tak masalah, bukan?
Yang penting dia manusia, bukan hewan
Dirimu ini bisa lagi terkapar
Hentikan
Kau terlalu lebih rasa derita
Gantikan saja
Dia dari mereka dapat
Monday, December 26, 2011
Yang kunanti adalah...
Dia yang tak lupa singgahi hariku
Kini menghilang,
ditelan, dilumat oleh perasaanku sendiri
Saat dia ada, kemauanku tak pernah sertainya
Saat dia tak ada, aku mencari sampai terpuruk menggebu
Mereka jarang berpadu,
walau sering bertemu
Mereka hanya bersemu,
dalam bimbang tak menentu
Apa maumu? Mau kalian?
Tolonglah hadir bersamaan
Tuk buatku lagi dulu
Yang selalu berkutik diam merangkai
Kata perkata,
yang bertabu maupun yang menggertak menyeru
Perlukah aku lakukan ritual ambigu untuk memanggilmu?
Jangan iyakan
Bisakah kau hadir dengan sendirinya?
Harap iyakan
Kau tercecer atau terbuang atau tersiakan?
Aku tak pernah anggapmu bak air mata yang tercecer sedih
Aku tak pernah buangmu bak kelamnya masa laluku
Aku tak pernah siakanmu bak prosenium teronggok di seberang jalan
Kau ada, kau menyertai, kau hadir!
Kau, yang kunanti, kuharap dapat kembali
Kau...
Kalian... adalah
Inspirasi dan niatanku
Harap baurkan rasamu, dalam rasaku
Dalam ragaku
Kini menghilang,
ditelan, dilumat oleh perasaanku sendiri
Saat dia ada, kemauanku tak pernah sertainya
Saat dia tak ada, aku mencari sampai terpuruk menggebu
Mereka jarang berpadu,
walau sering bertemu
Mereka hanya bersemu,
dalam bimbang tak menentu
Apa maumu? Mau kalian?
Tolonglah hadir bersamaan
Tuk buatku lagi dulu
Yang selalu berkutik diam merangkai
Kata perkata,
yang bertabu maupun yang menggertak menyeru
Perlukah aku lakukan ritual ambigu untuk memanggilmu?
Jangan iyakan
Bisakah kau hadir dengan sendirinya?
Harap iyakan
Kau tercecer atau terbuang atau tersiakan?
Aku tak pernah anggapmu bak air mata yang tercecer sedih
Aku tak pernah buangmu bak kelamnya masa laluku
Aku tak pernah siakanmu bak prosenium teronggok di seberang jalan
Kau ada, kau menyertai, kau hadir!
Kau, yang kunanti, kuharap dapat kembali
Kau...
Kalian... adalah
Inspirasi dan niatanku
Harap baurkan rasamu, dalam rasaku
Dalam ragaku
Sunday, December 25, 2011
Aku dan tumpuanku
Batangan pohon yang tiada utuh,
terbesit sembilu parasit menggerogot
Mega yang membisu,
dia tak lagi berucap, bahkan benderang
Dengan makhluknya yang tak seirama,
penuh pengkhianatan, kebohongan, cacian
Usangnya deretan buku yang kalimatnya rapuh mengeruh,
aku tau dia telah tiada-dimakan usia-
dia tak lagi menjamuri tiap lembarannya
dia tak lagi hiasi sudut rongganya
Kapas busa yang berterbangan dari naungannya
Cahaya sunyi yang bersemedi
Dan dalam petak kotak kerut itu,
disanalah raga dan jiwaku berdiam
Masih dapat bernafas dan berpikir
dan organ yang setia bekerja dalam pembusukkan
Aku sadar, diri ini hidup dalam kelemahan
Aku sadar, tak lagi ada inspirasi sehat
Aku sadar, tak ada sandaran hidup untuk meneduh
Aku tetap berkarya dalam aviasi
Tak ingin berhenti
Aku berbuat, tidak mati!
Aku punya kehidupan, bukan semata impian!
Aku lumpuh terkulai, silakan saja samakan dengan idiot di seberang jalan
Apa masalahnya? Apa halangannya?
Toh ini aku, bukan kau
Aku yang menanggung malu dan hujatan
Aku masih dapat hidup, dan berkehidupan
Dengan moral dan dalam hukum sekalipun
Biarkan aku begini dengan tumpuanku, pijakan
Sekalipun aku berpergi, beginilah aku, berkarya
Aku masih membayangi
Aku, yang bersemayam, dalam naung elegi abadimu
terbesit sembilu parasit menggerogot
Mega yang membisu,
dia tak lagi berucap, bahkan benderang
Dengan makhluknya yang tak seirama,
penuh pengkhianatan, kebohongan, cacian
Usangnya deretan buku yang kalimatnya rapuh mengeruh,
aku tau dia telah tiada-dimakan usia-
dia tak lagi menjamuri tiap lembarannya
dia tak lagi hiasi sudut rongganya
Kapas busa yang berterbangan dari naungannya
Cahaya sunyi yang bersemedi
Dan dalam petak kotak kerut itu,
disanalah raga dan jiwaku berdiam
Masih dapat bernafas dan berpikir
dan organ yang setia bekerja dalam pembusukkan
Aku sadar, diri ini hidup dalam kelemahan
Aku sadar, tak lagi ada inspirasi sehat
Aku sadar, tak ada sandaran hidup untuk meneduh
Aku tetap berkarya dalam aviasi
Tak ingin berhenti
Aku berbuat, tidak mati!
Aku punya kehidupan, bukan semata impian!
Aku lumpuh terkulai, silakan saja samakan dengan idiot di seberang jalan
Apa masalahnya? Apa halangannya?
Toh ini aku, bukan kau
Aku yang menanggung malu dan hujatan
Aku masih dapat hidup, dan berkehidupan
Dengan moral dan dalam hukum sekalipun
Biarkan aku begini dengan tumpuanku, pijakan
Sekalipun aku berpergi, beginilah aku, berkarya
Aku masih membayangi
Aku, yang bersemayam, dalam naung elegi abadimu
Saturday, December 24, 2011
Aku hanya...
Aku hanya berimu semangat, bukan jiwa
Aku hanya berimu perasaanku, bukan hatiku
Kita hidup dalam masing-masing hati
"Hidup dalam satu hati? Bukankah itu mustahil?"
Kita hanya dapat hidup dalam leburan hati, perasaan
Bukan dalam hati
Bagi yang peka, tentu dapat rasakan lainnya
Bagi yang tidak, itu hanya tersiakan
Disitu, kepedulian muncul
Bukan dari paksaan, tapi nalurinya
Bukan dari pemikiran otak, tapi refleks
~Sekian
Aku hanya berimu perasaanku, bukan hatiku
Kita hidup dalam masing-masing hati
"Hidup dalam satu hati? Bukankah itu mustahil?"
Kita hanya dapat hidup dalam leburan hati, perasaan
Bukan dalam hati
Bagi yang peka, tentu dapat rasakan lainnya
Bagi yang tidak, itu hanya tersiakan
Disitu, kepedulian muncul
Bukan dari paksaan, tapi nalurinya
Bukan dari pemikiran otak, tapi refleks
~Sekian
Hidup-selamanya. Mustahil
"Bagaimana jika aku hidup selamanya?"
Itu tak beralasan. Bisa menyenangkan mungkin menyengsarakan
Menurutku, lebih pada "melelahkan"
Karena tak punya kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya "Di atas sana"
Hanya berlaku sama tiap harinya
Tidakkah melelahkan? -Mungkin hanya "cukup", tidak "terlalu" melelahkan
Hidup itu penuh keculasan, makhluknya maupun alur itu sendiri
Aku tak ingin hidup selamanya
Karena aku akan sendiri
Disaat yang lain, mulai berpejam
Aku ingin rasakannya, tapi tak sekarang
Hidup normal seperti lainnya
Kembalikanlah aku semula dulu,
jika aku benar hidup selamanya
Aku tetap ingin hidup sama, walaupun dalam perbedaan
Dia, yang buatku bertanya
Yang kukenal. tapi tak pernah kusapa
Dia yang selalu berdiam penuh keanehan
Dengan senyum misterius
Terkadang bersikap bodoh, tapi bijak
Jalan pikirannya sulit dipahami
Terlebih orang yang asing, jauh darinya, termasuk aku
Karena itu, dia berbeda
Dia tak sama
Dia, tak dapat diprediksi
Taukah?
Dia sedikit menyebalkan
Tapi tidak mengganggu
Tak pernah tampakkan amarahnya
Dia apa adanya, tak melebih-lebihkan
Itu jadi panutanku
Bagaimana agar aku jadi dia?
Menurutku, tak perlu
Biarlah aku dengan diriku sendiri
Dia dengan tampang polosnya itu
Karena dia, misterius, yang buatku bertanya
Dia yang selalu berdiam penuh keanehan
Dengan senyum misterius
Terkadang bersikap bodoh, tapi bijak
Jalan pikirannya sulit dipahami
Terlebih orang yang asing, jauh darinya, termasuk aku
Karena itu, dia berbeda
Dia tak sama
Dia, tak dapat diprediksi
Taukah?
Dia sedikit menyebalkan
Tapi tidak mengganggu
Tak pernah tampakkan amarahnya
Dia apa adanya, tak melebih-lebihkan
Itu jadi panutanku
Bagaimana agar aku jadi dia?
Menurutku, tak perlu
Biarlah aku dengan diriku sendiri
Dia dengan tampang polosnya itu
Karena dia, misterius, yang buatku bertanya
Inilah Aku
"Kamu menyakitkan!"
Ya, aku memang begini
Aku tak berperasaan
Lalu kenapa?
Aku hanya mencoba untuk menyadarkan
Caraku mungkin salah,
tapi niatannya tidak
Aku yang mencoba buatmu sadar,
tapi aku yang terabaikan
Aku yang coba buatmu tak rebah,
tapi aku yang terdampak amarah
Perdamaian? Dapatkah terjadi?
Tidak, itu sudah pasti
Kau yang putuskan tidak
Aku terimanya
Awal yang kau paksakan berteman
Akhir kau yang pisahkan
Setauku, teman tak terputus
Tapi itu mungkin saja
Dan inilah pertemanan yang tak wajar
Jatuh satu korban yang tak bersalah
Pertemanan bagai kesengsaraan
Bagiku, bukan baginya-tak bernama-
Ya, aku memang begini
Aku tak berperasaan
Lalu kenapa?
Aku hanya mencoba untuk menyadarkan
Caraku mungkin salah,
tapi niatannya tidak
Aku yang mencoba buatmu sadar,
tapi aku yang terabaikan
Aku yang coba buatmu tak rebah,
tapi aku yang terdampak amarah
Perdamaian? Dapatkah terjadi?
Tidak, itu sudah pasti
Kau yang putuskan tidak
Aku terimanya
Awal yang kau paksakan berteman
Akhir kau yang pisahkan
Setauku, teman tak terputus
Tapi itu mungkin saja
Dan inilah pertemanan yang tak wajar
Jatuh satu korban yang tak bersalah
Pertemanan bagai kesengsaraan
Bagiku, bukan baginya-tak bernama-
Tuesday, December 20, 2011
Kita Berbeda!
Aku ingin menjadi diriku sendiri
Tak hanya sesekali, tapi terus begitu selamanya
Aku tak mau dibilang sama, karena aku berbeda, aku membuat perbedaan.
Suatu saat, aku akan melakukkan sesuatu
Yang pastinya milikku seutuhnya
Lalu aku bagi dengan lainnya
"Hidup ini tak sendiri bukan?"
Tak ada paksaan untuk menentukan pilihanku, jalanku
Kau hanya perlu mengiyakannya, bukan mencampurinya
Kau hanya perlu membantunya, bukan menentukannya
Karena pilihanmu bukan pilihanku
Kita hanya saling mengusulkan, menasihati agar tak salah memilih
Tapi pasti tak mau juga berkutik dalam lingkup keegoisan
Karena kita berbeda, kita tak sama.
Dengan pilihan masing-masing
Dan perbedaan bukan masalah unutk menjadi satu
Jangan jadikan ini motivasi untuk memandang lainnya sebelah mata
"Diantara perbedaan, disanalah persatuan itu bermula."
Tak hanya sesekali, tapi terus begitu selamanya
Aku tak mau dibilang sama, karena aku berbeda, aku membuat perbedaan.
Suatu saat, aku akan melakukkan sesuatu
Yang pastinya milikku seutuhnya
Lalu aku bagi dengan lainnya
"Hidup ini tak sendiri bukan?"
Tak ada paksaan untuk menentukan pilihanku, jalanku
Kau hanya perlu mengiyakannya, bukan mencampurinya
Kau hanya perlu membantunya, bukan menentukannya
Karena pilihanmu bukan pilihanku
Kita hanya saling mengusulkan, menasihati agar tak salah memilih
Tapi pasti tak mau juga berkutik dalam lingkup keegoisan
Karena kita berbeda, kita tak sama.
Dengan pilihan masing-masing
Dan perbedaan bukan masalah unutk menjadi satu
Jangan jadikan ini motivasi untuk memandang lainnya sebelah mata
"Diantara perbedaan, disanalah persatuan itu bermula."
Tak Bertujuan
Denting itu, kau dengarkah?
Itu waktu-waktu yang berlarian dalam hujan
Yang berusaha dapatkan kepastian
dari pelangi yang ditunggu
Dengan disananya,
bait not yang tak terbentuk utuh
tetap saja mainkan lagunya
Dan disana itu?
Apakah mereka?
Oh, itu "makhluk-makhluk" yang berkejaran mencari aman
Mencari lindungan dari tetesan air berkah ini
"Hidupkah? Atau hanya tertiup bertebaran?"
Jangan aneh. Mereka hidup, walaupun banyak diantaranya yang beraga mati.
"Sama saja tak hidup, tak berjiwa sama sekali."
Salah. Mereka berjiwa, tapi raganya mati suri.
"Mati suri?"
Yah, tak taukah? Mati yang sekejap, mati yang tak selamanya.
Dan saat terbangun, mereka menjadi utuh
Jiwa mereka ada, raganya hidup kembali.
Tinggal kemauan mereka untuk menjalani kehidupan
Kadang jiwa mereka tak ditiupkan oleh semangat asa,
yang ada hanya kisah lampau kelam yang membayang,
yang menghambat segalanya, pemikiran mereka terutama.
"Mereka makhluk tak bertujuan."
Bukan. Mereka masih bertujuan. Tujuan kefanaan.
Tujuan yang tak kekal, yang hanya akan hidup dalam sekeliling kehidupan fana.
Tujuan yang tak berujung. Tujuan yang semata.
Itu waktu-waktu yang berlarian dalam hujan
Yang berusaha dapatkan kepastian
dari pelangi yang ditunggu
Dengan disananya,
bait not yang tak terbentuk utuh
tetap saja mainkan lagunya
Dan disana itu?
Apakah mereka?
Oh, itu "makhluk-makhluk" yang berkejaran mencari aman
Mencari lindungan dari tetesan air berkah ini
"Hidupkah? Atau hanya tertiup bertebaran?"
Jangan aneh. Mereka hidup, walaupun banyak diantaranya yang beraga mati.
"Sama saja tak hidup, tak berjiwa sama sekali."
Salah. Mereka berjiwa, tapi raganya mati suri.
"Mati suri?"
Yah, tak taukah? Mati yang sekejap, mati yang tak selamanya.
Dan saat terbangun, mereka menjadi utuh
Jiwa mereka ada, raganya hidup kembali.
Tinggal kemauan mereka untuk menjalani kehidupan
Kadang jiwa mereka tak ditiupkan oleh semangat asa,
yang ada hanya kisah lampau kelam yang membayang,
yang menghambat segalanya, pemikiran mereka terutama.
"Mereka makhluk tak bertujuan."
Bukan. Mereka masih bertujuan. Tujuan kefanaan.
Tujuan yang tak kekal, yang hanya akan hidup dalam sekeliling kehidupan fana.
Tujuan yang tak berujung. Tujuan yang semata.
Monday, December 19, 2011
Pertanyaan pada diri
Aku tak pernah tau apa yang dia ucapkan, apa yang dia rasakan, terlebih lagi yang dia pikirkan.
Aku memang tak pernah menyadari sebelumnya
Ternyata itu teramat mendalam, bagi dia, bukan bagiku.
Hingga akhirnya, dari sama sekali tak sadar menjadi setengah sadar, setengah tersadar menjadi sangat sadar
Selama ini, yang dia coretkan dalam selembar kertas tersiakan itu, yang dia cantumkan dalam biografinya itu. Ternyata AKU
"Mimpi ataukah ilusi?" Keduanya sama, tapi ini nyata
"Mengetahuinya? Bagaimana?" Itu waktu, dia yang menentukan. Sesungguhnya bukan waktu, tapi Dia-Sang Pencipta-
"Setidaknya pasti akan tau, tapi kapan?" Itu yang menjadi pertanyaan
"Apakah benar?" Ini butuh kepastian, bukan hanya perkiraan
Memang aku sudah mengetahuinya kalau ini terlalu berlebihan, terlalu percaya diri.
"Salahkah?" Tidak, ini wajar. Apa salahnya menerka
Toh jika memang benar, itu kebahagiaan. Jika memang salah, jangan buat menjadi masalah
Ini simpel tapi rumit. Terlihat simpel bagi yang memahami, dan rumit untuk yang tak mengerti
Atau biasa saja, ini bagi "mereka-mereka" yang tak punya pendirian, gagasan, mungkin yang tak mempedulikan
Terserah~
Aku memang tak pernah menyadari sebelumnya
Ternyata itu teramat mendalam, bagi dia, bukan bagiku.
Hingga akhirnya, dari sama sekali tak sadar menjadi setengah sadar, setengah tersadar menjadi sangat sadar
Selama ini, yang dia coretkan dalam selembar kertas tersiakan itu, yang dia cantumkan dalam biografinya itu. Ternyata AKU
"Mimpi ataukah ilusi?" Keduanya sama, tapi ini nyata
"Mengetahuinya? Bagaimana?" Itu waktu, dia yang menentukan. Sesungguhnya bukan waktu, tapi Dia-Sang Pencipta-
"Setidaknya pasti akan tau, tapi kapan?" Itu yang menjadi pertanyaan
"Apakah benar?" Ini butuh kepastian, bukan hanya perkiraan
Memang aku sudah mengetahuinya kalau ini terlalu berlebihan, terlalu percaya diri.
"Salahkah?" Tidak, ini wajar. Apa salahnya menerka
Toh jika memang benar, itu kebahagiaan. Jika memang salah, jangan buat menjadi masalah
Ini simpel tapi rumit. Terlihat simpel bagi yang memahami, dan rumit untuk yang tak mengerti
Atau biasa saja, ini bagi "mereka-mereka" yang tak punya pendirian, gagasan, mungkin yang tak mempedulikan
Terserah~
Labels:
Conversation,
Life,
Poems,
Questions,
Self
Thursday, October 13, 2011
Kehidupan Sebenarnya
Balutan kemeja yang setengah menyerpih
Dengan lipatan pelik setiap lengannya
Ngarai menoda yang selalu sertai
Dengan tetesan peluh yang lama menjadi danau
Tak luput juga kantong dosa pendustaan,
kebohongan
Yang tiap hari tak pernah lupa kau isi,
walau hanya satu mungkin beberapa
kepingan kecil logam dosa.
Tangan yang selalu menengadah mohon ampunan
Tapi diri tak kunjung sadar
Kau sucikan jiwamu dan nodai lagi
Karena inilah sesungguhnya
Kehidupan insan yang sedang berjalan
Dengan lipatan pelik setiap lengannya
Ngarai menoda yang selalu sertai
Dengan tetesan peluh yang lama menjadi danau
Tak luput juga kantong dosa pendustaan,
kebohongan
Yang tiap hari tak pernah lupa kau isi,
walau hanya satu mungkin beberapa
kepingan kecil logam dosa.
Tangan yang selalu menengadah mohon ampunan
Tapi diri tak kunjung sadar
Kau sucikan jiwamu dan nodai lagi
Karena inilah sesungguhnya
Kehidupan insan yang sedang berjalan
Mereka, jiwa kita
"Dan ingatlah...
mereka bukan guratan tebal kata menyampah yang ada
dalam setiap lembaran hidupmu
yang hanya akan kau abaikan, kau buang percuma.
Mereka adalah petikkan kata bermakna dalam satu sobekan singkatnya hidupmu.
Walau begitu,
merekalah pengisi kekosongan hidupmu sesungguhnya."
Mereka, jiwa k.ita. Pengisi hidup kita
mereka bukan guratan tebal kata menyampah yang ada
dalam setiap lembaran hidupmu
yang hanya akan kau abaikan, kau buang percuma.
Mereka adalah petikkan kata bermakna dalam satu sobekan singkatnya hidupmu.
Walau begitu,
merekalah pengisi kekosongan hidupmu sesungguhnya."
Mereka, jiwa k.ita. Pengisi hidup kita
Subscribe to:
Posts (Atom)