Aku tak bisa hentikan pena yang bergurat itu,
untuk terhenti dan menyapa hampa
Tak semudah kedipkan mata saat
tetesan makna tersiakan mulai meranggas
Tapi tak seramah barisan kumulus
yang tanpa egonya berdagum
Sama hal, sama maksut
Aku tau kau tak mudah pulihkan semangatmu
kembali dulu.
Dengan senyum semburat senjanya Dandellion
beterbangan penuh penantian
Aku rasakan keputusasaan dalam otakmu,
dan mulai menjamah pada selongsong ragamu
Dalam jiwamu yang terbeban
Aku mohon...
Jangan buat ini akhir
Jangan rasa ini sesal
Jangan...putuskan akan mati. Aku inginkan kau
tetap terbingkai dengan beribu pigmen.
Potretmu, jangan ternoda
Setidaknya, hanya ini. Aku tak dapat lebih berbasa-basi
Memang, hanya ini.
Dukungan tersirat yang mungkin kuucap
Ku harap kau pulih, segera.
Ku harap kau mengubah, sekarang.
"It's better to live like a flame, to know a man and love him, even if he can't be yours, then never to love at all....." -Eloisa James-
Holla!
Wednesday, February 29, 2012
Thursday, February 2, 2012
Monday, January 30, 2012
Aku Berkemas
Bertamu ke hunian hampaku?
Silakan...
Tapi aku tak suguhkan harapan, karena sarinya
habis dihisap kupu
Remahan puing masa lalu tersedia tersisakan
Kau mau secuil?
Aku tak pernah minum soda,
atau sejenis manis air
Maukah kau teguk tawar air basa?
Yang berbulir bagai kerikil
meronta ditendang sang penguasa dari
lapang kehijauan
Tenang namun meragukan
Aku sudah kemasi hidupku selanjutnya
Aku hampir selesaikan sketsa
masa depanku. Hanya perlu
goresan terang, sedikit. Entahlah
Dan aku tak inginkan terasa seperti
teh tanpa gula dan daun teh.
Hambar
Dan tak lagi bagai tumbuhan tanpa akar
Esok, aku pastikan
Aku akan berpindah tinggalkan beribu lampu
kota yang bermakna hangus arang
Aku akan tuangkan sedikit makna
dalam cangkir kopi senja pengharapan
Aku harapkan pengubahan dalam masa
Januari ini. Tak lagi mendung dan kelam
Walau sudah di ujung akhir harinya
dalam kubang pada cawan tak berbatas
dalam kubang pada cawan
yang torehkan duka
Aku ingin, mengubah
Silakan...
Tapi aku tak suguhkan harapan, karena sarinya
habis dihisap kupu
Remahan puing masa lalu tersedia tersisakan
Kau mau secuil?
Aku tak pernah minum soda,
atau sejenis manis air
Maukah kau teguk tawar air basa?
Yang berbulir bagai kerikil
meronta ditendang sang penguasa dari
lapang kehijauan
Tenang namun meragukan
Aku sudah kemasi hidupku selanjutnya
Aku hampir selesaikan sketsa
masa depanku. Hanya perlu
goresan terang, sedikit. Entahlah
Dan aku tak inginkan terasa seperti
teh tanpa gula dan daun teh.
Hambar
Dan tak lagi bagai tumbuhan tanpa akar
Esok, aku pastikan
Aku akan berpindah tinggalkan beribu lampu
kota yang bermakna hangus arang
Aku akan tuangkan sedikit makna
dalam cangkir kopi senja pengharapan
Aku harapkan pengubahan dalam masa
Januari ini. Tak lagi mendung dan kelam
Walau sudah di ujung akhir harinya
dalam kubang pada cawan tak berbatas
dalam kubang pada cawan
yang torehkan duka
Aku ingin, mengubah
Friday, January 20, 2012
Live. I'm perfect as me!
Aku hidup
dan berguna-mungkin-
Tersiakan, bukan tujuanku menjadinya
Tapi tidak dikata persediaan
yang gantikan mereka
Bukan alu,
yang ditumbuk perasaannya
bagai hina
Begini, bagaimana harga diriku berkabar?
Rendahan. Bukan tingkatanku
Aku tak sempurna, talenta sepertinya aku tidak
Tapi aku sesempurnaku diciptakan
Aku punya pemikiran. Logis !
Berperasaan. Tak sadis bengis !
Berharga diri tak rendah. Bukan berharga sama mengemis !
Karena aku bukan,
makhluk eceran dalam riuhnya bimasakti
dan berguna-mungkin-
Tersiakan, bukan tujuanku menjadinya
Tapi tidak dikata persediaan
yang gantikan mereka
Bukan alu,
yang ditumbuk perasaannya
bagai hina
Begini, bagaimana harga diriku berkabar?
Rendahan. Bukan tingkatanku
Aku tak sempurna, talenta sepertinya aku tidak
Tapi aku sesempurnaku diciptakan
Aku punya pemikiran. Logis !
Berperasaan. Tak sadis bengis !
Berharga diri tak rendah. Bukan berharga sama mengemis !
Karena aku bukan,
makhluk eceran dalam riuhnya bimasakti
Jelaskan. Ini sebuah tanya penasaran
Dia-
berdiam begitu tetap, dengan
tepian hitam tambahan bantu mata
Bersetelan yang dengan betah dan tak terganggu
disandang dan dinilai "maskulin"
Sungguhnya biasa, jauhnya sederhana
Tapi lewat caranya,
dia hadirkan tatapan di hadapan,
dia menatap keyakinan penuh,
dia enggan mengucap lebih kata, karena dia
sebenarnya bukan pendiam, pemalu
tapi bukan pengecut
Dia katakan perasaannya di balik,
dia penuh tekad sampaikan, tapi
urung keberanian utarakan
Laku sebenarnya bersembunyi mudahnya,
tapi tidak dengannya
Sangat terbaca dan...
ini kedua kalinya aku ketahui
Dia lihat,
persis di aku. Tepat!
Bodoh, aku biarkan diri ini berpaling, dari
sudut jarum angka satu hingga duabelas
Jelas tersirat, dia memucat. Aku rasakan,
dia sesali, bukan bukan. Dia
sangat kecewa. Mungkinnya harapkan,
tatapan kepastian akan berbalas kepercayaan
Tidak, senyatanya. Jauh membalik dan berbalik
Dia takutkanku, akan
menyanding bersebelahan dengan
manusia sejurusannya, dia tau mereka kawan
Fakta, nyata, aku bukan lebih dari siapanya
Lakunya tampak
begitu. Kenapa?
Hentikan.
Jangan buat otakku berpacu dalam peloncoan
Singkatnya waktu itu, jangan.
Sekalipun berusaha buatku tak penasaran
Henti buatku melebihi batas ambang penasaran
berdiam begitu tetap, dengan
tepian hitam tambahan bantu mata
Bersetelan yang dengan betah dan tak terganggu
disandang dan dinilai "maskulin"
Sungguhnya biasa, jauhnya sederhana
Tapi lewat caranya,
dia hadirkan tatapan di hadapan,
dia menatap keyakinan penuh,
dia enggan mengucap lebih kata, karena dia
sebenarnya bukan pendiam, pemalu
tapi bukan pengecut
Dia katakan perasaannya di balik,
dia penuh tekad sampaikan, tapi
urung keberanian utarakan
Laku sebenarnya bersembunyi mudahnya,
tapi tidak dengannya
Sangat terbaca dan...
ini kedua kalinya aku ketahui
Dia lihat,
persis di aku. Tepat!
Bodoh, aku biarkan diri ini berpaling, dari
sudut jarum angka satu hingga duabelas
Jelas tersirat, dia memucat. Aku rasakan,
dia sesali, bukan bukan. Dia
sangat kecewa. Mungkinnya harapkan,
tatapan kepastian akan berbalas kepercayaan
Tidak, senyatanya. Jauh membalik dan berbalik
Dia takutkanku, akan
menyanding bersebelahan dengan
manusia sejurusannya, dia tau mereka kawan
Fakta, nyata, aku bukan lebih dari siapanya
Lakunya tampak
begitu. Kenapa?
Hentikan.
Jangan buat otakku berpacu dalam peloncoan
Singkatnya waktu itu, jangan.
Sekalipun berusaha buatku tak penasaran
Henti buatku melebihi batas ambang penasaran
Kapan aku "Mengubahku" ?
Dan akhirnya,
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
aku sampai pada ujung horizon
yang kunanti bertahun, beribu hari
Aku nyatakan aku mengubah
bukan segalanya tapi dari segala ada
surya sebelum menyapa kerabatnya
Kau tau maksudku,
aku tak yakin kepastian, ragu
melainkan
Mengubahkah sesingkat senja?
Aku tak rasa lagi sesingkat senyummu,
berkesan tapi sepejam
Aku menakutkan akan berlama esok
Aku khawatirkan akan tersiakan
Setidaknya, memang
Belum sadari saat ini, ini kuyakinkan
ini terlambat. Melebihi parah
Terlambat dalam rentan waktu
bukan melainkan dalam mengubah
Apa yang aku percepat kini?
Aku tanyakan diriku sesering mungkin, walau hanya sekali
Dan berharap terjawab dengan nalurinya
"Aku mengubah dalam perlambatan, aku percepatnya segera.
Dan aku terlambat, membuatnya jauh di awal"
Ini berarti...
Aku hanya perlu rasakan waktu
dalam detik pengubahan baik pada keburukan
Tak lagi siakan kesungguhannya, dan tersadar dalam sandaran
Aku tau rasakan waktu akan buatnya berlama tahan
akan mengubahnya sendiri
Dalam percepatan mengubah yang penuh
Aku tak kejar waktu dalam pengubahan, tapi
kejar pengubahan dalam waktunya
Tuesday, January 10, 2012
Manusia di Penghujung Sajak
Aku tetap lanjutkan,
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku
Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
-entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces
Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
-enggan
Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
-selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara
Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik
Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...
Aku tetap teruskannya,
sajakku,
yang tiada,
-berakhir
rima pada sajak tak berakhir
Bersebelahan dengan kunyahan lengket permen,
terlihat nyaman
Anak tak berdosa pada hiruk
pikuk dewasa, runtuh remahannya terasa
betah
Pada bentang khatulistiwa di penghujung
aku setia pada goresan
penaku
Aku biasa dapatkan kesan dari siapapun
-entahlah
Mungkin kau diantara manusia hidup
yang dalam hangat bertopi rajut kelam
langkahan tak tetap dalam lunglai semampai
Hingga pelikan pada kubangan,
meneguk kasar tiap resapan
dia-pelikan- tak mangsa pisces
Hatilah yang ia cerna,
dia memang bodoh tapi merasa
Lihat kelakuan majikannya, dia
-enggan
Aku ini ceritakan apa?
Nalar banyak manusia tak berproses
-selayaknya
Terus balik-putarkan relasinya
Bagai dentang jarum bertudung
pasir pada
tuanya meja...
Dia berkutik nan angkuh
Mengintip tumpukan duri dari cemara
Sengaja mengolah cerita panjang,
berdiksi sedang
Mereka.
Sekalipun belum
Otak mereka melumat apa hal?
Daging basi yang disisakan
pemiliknya?
Menyedihkan.
Itu alot. Bahkan busuk tengik
Aku. Ceritakannya
Berseling diksi yang ku bisa
Tak pahami? Lagi?
Kali ini geraman, bukan
gonggongan
Tiada habis otak memproses, mungkin celotehan
ringan tersirat dan
mengutip
Mengertikan mereka, usaha yang
membuat pelik
Menelan katak hidup-hidup, sama
membosankannya. Sama
menjijikannya. Sama
enggannya...
Aku tetap teruskannya,
sajakku,
yang tiada,
-berakhir
Subscribe to:
Posts (Atom)